CITRAAN GERAK DALAM NOVEL DURGA UMAYI KARYA Y. B. MANGUNWIJAYA (KAJIAN STILISTIKA)
CITRAAN GERAK DALAM NOVEL DURGA UMAYI KARYA Y. B. MANGUNWIJAYA
(KAJIAN STILISTIKA)
Disusun
untuk memenuhi Tugas Akhir
Mata Kuliah Stilistika
Mata Kuliah Stilistika
Tahun
Ajaran 2016/2017
Oleh
ANNISA
AKHLAK
NIM
1414015018
Sastra
Indonesia 2014 Linguistik
FAKULTAS
ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS
MULAWARMAN
SAMARINDA
2016
CITRAAN GERAK DALAM NOVEL DURGA UMAYI KARYA Y. B. MANGUNWIJAYA
(KAJIAN STILISTIKA)
ANNISA AKHLAK
NIM 1414015018
Sastra Indonesia
2014 Linguistik
Abstrak
Akhlak, Annisa. 2016. Citraan
Gerak Dalam Novel Durga Umayi Karya YB. Mangunwijaya. Dibimbing oleh Alfian
Rokhmansyah, S.S, M.Hum.
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui
bagaimana citraaan itu terutama citraan gerak yang ada dalam Novel Durga Umayi Karya YB. Mangunwijaya.
Analisis ini menggunakan kajian stilistika dengan menggunakan teori citraan. Hasil
analisis ini dilakukan dengan teknik baca dan catat. Analisis ini juga
memaparkan tentang teori stilistika dan juga citraan. Hasil analisis
menyimpulkan bahwa ditemukan beberapa jenis citraan didalam novel Durga
Umayi karya YB. Mangunwijaya, tetapi diantara kelima jenis citraan itu terdapat
citraan gerak yang mendominasi dalam novel Durga
Umayi karya YB. Mangunwijaya ini. yaitu citraan gerak yaitu mencuci,
mencuri, mengejar, menyapu, menjahit, membuka, tendang, sepak,lari dan
lain-lain.
Kata
Kunci
: Citraan, Macam Citraan, Citraan Gerak
A. Pendahuluan
Sastra merupakan
ciptaan manusia yang memiliki ciri yang khas karena pengarang berhak ingin
menjadi apa saja dalam karyanya. Sastra merupakan kegiatan kreatif yang
dihasilkan oleh seorang seniman dalam bentuk karya yang fundamental, baik itu
dalam bentuk prosa, drama dan puisi sehingga penikmat atau pengapresiasi mampu
membedakan jenis dan karekteristrik karya itu sendiri.
Karya sastra merupakan sebuah karya seni
yang bermediumkan bahasa yang oleh seorang pengarang digunakan untuk tujuan
hiburan dan memiliki aturan-aturan atau struktur tersendiri yang berbeda dengan
karya seni yang lain. Karya sastra pada era modern ini telah banyak mengalami
kemajuan. Berbagai genre baru mulai bermunculan untuk menjawab semakin hausnya
masyarakat pembaca terhadap karya sastra. Terdapat berbagai karya sastra yang
selalu mengikuti perkembangan jaman dan ada pula yang sesuai pada jalurnya.
Karya
sastra tercipta melalui perenungan yang mendalam dengan tujuan untuk dinikmati,
dipahami, dan diilhami oleh masyarakat. Melalui karyanya, pengarang ingin
mengungkapkan masalah manusia dan kemanusiaan, penderitaan, perjuangan, kasih
sayang, kebencian, nafsu, dan segala sesuatu yang dialami manusia di dunia ini.
Pengarang dengan mencipta sastra ingin menampilkan nilai-nilai yang lebih
tinggi dan mampu menafsirkan tentang makna dan hakikat hidup.
Novel mempunyai cerita yang panjang,
yang tidak bisa dibaca hanya sekejap saja. Panjangnya cerita ini merupakan daya
tarik yang luar biasa bagi pembaca.
Gaya tulisan YB.Mangunwijaya yang khas
dan frontal membuat kumpulan novel ini memiliki perbendaharaan kosakata yang
cukup ramai. Terdapat berbagai bahasa yang digunakan dalam novel Durga Umayi.
Bahasa Jawa, bahasa Inggris, Jepang, Belanda dan lain-lain turut menghiasi
keberagaman tulisannya.
YB.Mangunwijaya sebagai pengarang novel Durga
Umayi juga memperhatikan pemakaian citraan. Pemakaian citraan tersebut
untuk membangun novel yang diciptakan. Bukan sekedar cerita biasa yang membuat
pembaca berimajinasi tanpa ada pemahaman-pemahaman baik yang dapat kita petik.
Berdasarkan uraian permasalahan di atas,
maka perlu adanya sebuah kajian yang lebih mendalam mengenai novel Durga
Umayi karya YB.Mangunwijaya. Analisis ini difokuskan pada pemakaian citraan
dalam novel.
Citraan karya sastra berperan penting
untuk menimbulkan pembayangan imajinatif, membentuk gambaran mental, dan dapat
memgbankitkan pengalaman tertentu pada pembaca. citraan merupakan kumpulan
citra (the collection of image), yang digunakan untuk melukiskan objek dan
kualitas tanggapan indera yang digunakan dalam karya sastra, baik dengan
deskrisi secara harfiah maupun secara khas menyatakan beberapa macam citraan
yang antara lain adalah citraan penglihatan, citraan gerakan, citraan
pendengaran, citraan penciuman, citraan pencecapan, citraan perabaan, dan citraan
warna setempat.
Teori stilistika digunakan dalam
menganalisis novel ini karena pengarang dalam memaparkan urutan cerita dan
bahasa yang digunakan berestetik dan menarik untuk dibaca. Style adalah cara
mengungkapkan gagasan dan perasaan dengan bahasa khas sesuai dengan
kreativitas, kepribadian dan karakter pengarang untuk mencapai efek tertentu,
yakni efek estetik atau efek kepuitisan dan efek penciptaan makna. Adapun
alasan diangkatnya citraan sebagai bahan kajian karena novel ini menggunakan
citraan-citraan untuk menggambarkan suasana cerita seakan terasa nyata dalam
kehidupan. Citraan dalam novel ini sangat dominan untuk menggambarkan keadaan
tokoh dan juga keadaan sekitarnnya.
B. Landasan Teori
1. Stilistika
Stilistika
bukan merupakan ilmu baru karena dalam sejarah sastra (Barat) sudah eksis
bersamaan dengan munculnya karya-karya sastra. Penggunaan bahasa yang khas
sastra mampu memberikan efek khusus selalu menarik perhatian orang untuk
memberikan penjelasan. Namun, dalam perkembangan nya stilistika juga diterapkan
berbagai wacana bahasa selain sastra. Hal itu disebabkan bahasa sebagai alat
komunikasi yang dikreasikan sedemikian rupa juga dapat memberikan dampak yang
signifikan. Pendekatan stilistika modern kemudian diperkaya dengan berbagai
teori lain yang gayut seperti kajian wacana (stilistika wacana),
feminisme (stlistika feminisme), psikologi kognitif
(stilistika kognitif) dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2014: 75-76).
Leech & Short mengungkapkan bahwa
stilistika merupakan kajian tentang stile, kajian terhadap wujud performasi
kebahasaan khususnya yang terdapat di teks-teks kesastraan. Kini dalam kajian
akademik pendekatan stilistika sering dibedakan ke dalam kajian bahasa sastra
dan nonsastra (dalam Nurgiyantoro, 2014:75).
Kajian stilistika dimaksudkan untuk
menjelaskan fungsi keindahan penggunaan bentuk kebahasaan tertentu mulai dari
aspek bunyi, leksikal, struktur, bahasa figuratif, sarana retorika sampai
grafologi. Selain itu, kajian stilistika juga bertujuan untuk menentukan
seberapa jauh dan dalam hal apa serta bagaimana pengarang mempergunakan
tanda-tanda linguistik untuk memperoleh efek khusus (Nurgiyantoro, 2014:
75-76).
Wawasan demikian sejalan dengan
pernyataan Cummings dan Simmons bahwa studi bahasa dalam teks sastra merupakan branch of linguistik called stylistic.
Dalam konteks yang lebih luas, bahkan Jakobson beranggapan bahwa poetics (puitika) sebagai teori tentang
sistem dan kaidah teks sastra sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
Linguistik (Nurgiyantoro, 2014: 75-76).
Pendekatan objektif merupakan pendekatan
dalam kajian sastra yang menitik beratkan pada hubungan antar unsur karya
sastra. Fokus pendekatan objektif adalah karya sastra itu sendiri. Kajian
stilistika merupakan bentuk kajian yang menggunakan pendekatan objektif karena
ditinjau dari sasaran kajian stilistika merupakan kajian yang berfokus pada
wujud penggunaan sistem tanda dalam karya sastra (Aminuddin, 1995:52).
2. Citraan
Dalam dunia kesastraan dikenal adanya
istilah citra (image) citraan (imagery) yang keduanya menunjuk pada adanya
reproduksi mental. Citra merupakan sebuah gambaran berbagai pengalaman sensoris
yang dibangkitkan oleh kata-kata. Abrams dan Kenny (melalui Nurgiyantoro,
2014:275) menyebutkan bahwa Citraan, dipihak lain merupakan kumpulan citra, the collection of images, yang
dipergunakan untuk menuliskan objek dan kualitas tanggapan indera yang
dipergunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi secara harfiah maupun
kias. Ketika kita membaca dan mendengar kata atau ungkapan yang mengandung
unsur citraan, ada reproduksi mental di rongga imajinasi yang menunjukkan
adanya gambaran konkret dari suatu objek (Nurgiyantoro, 2014:275).
Persoalan citraan (gambaran angan-angan)
berhubungan dengan pemakaian bahsa dan sering di kaitkan dalam kajian puisi.
Kajian citraan dalam rangka studi stilistika perlu di lakukan karena studi
stilistika mengkhususkan pada pemakaian bahasa secara khusus. imagery adalah gambar-gambar dalam
pikiran melalui bahasa yang menggambarkan (Alternbernd dalam Supriyanto,
2007:80), sedang setiap gambar pikiran disebut citra atau image.
Menurut Pradopo (melalui Supriyanto,
2007:21 ) gambaran pikiran adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat
menyerupai gambaran yang di hasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah
objek yang dapat dilihat oleh mata, saraf penglihatan, dan daerah-daerah otak
yang berhubungan. Selanjutnya Pradopo membagi citraan menjadi beberapa jenis yaitu
(1) visual imagery adalah citraan
yang d timbulkan oleh penglihatan; (2) auditory
imagery citraan yang ditimbulkan
oleh pendengaran; (3) citraan gerak (movement
imagery atau kinaestatik) yaitu
citraan yang menggambarkan sesuatu yang secara nyata tidak bergerak tetapi di
gambarkan mampu bergerak; (4)citraan yang di timbulkan oleh warna lokal (local colour).
Menurut
Baldic (melalui Nurgiyantoro, 2014:276) Citraan merupakan suatu bentuk
penggunaan bahasa yang mampu membangkitkan kesan yang konkret terhadap suatu
obyek , pemandangan, aksi, tindakan, atau pernyataan yang dapat membedakannya
dengan pernyataan atau ekspositori yang abstrak dan biasanya ada kaitannya
dengan simbolisme Terbangkitkannya kesan konkret itu terjadi di rongga
imajinasi, di benak kita. Artinya, kesan atau gambaran itu hanya terjadi di
pikiran yang bersifat mentalistik dan tidak benar-benar konkret. Dengan cara
pengungkapan demikian, sesuatu yang abstrak menjadi konkret dan mudah
dibayangkan.
Usaha pengonkretan sesuatu yang abstrak
menjadi (seolah-olah) konkret lewat bentuk-bentuk citraan, tidak berbeda hanya
dengan pendayaan pemajasan dan penyiasatan struktur, adalah sebuah upaya untuk
lebih mengefektifkan penuturan itu. Lewat penggunaan bentuk-bentuk citraan,
sesuatu yang dituturkan menjadi lebih konkret, mudah dibayangkan, mudah
diimajinasikan, dan karenanya juga menjadi lebih mudah dipahami. Maka,
penggunaan bentuk-bentuk citraan itu pada hakikatnya merupakan upaya
pengarangan untuk memfasilitasi pembaca agar lebih mudah menangkap muatan makna
dari sesuatu yang disampaikan (Nurgiyantoro, 2014: 276).
Citraan merupakan salah satu unsur stile
yang penting karena selain berfungsi mengonkretkan juga dapat menghidupkan
penuturan. Bahkan, Efendi (melalui Nurgiyantoro, 2014:277) menegaskan bahwa
citraan (Efendi memakai istilah pengimajian) merupakan jiwa puisi, jiwa
persajakan. Ia mengemukakan bahwa pengimajian adalah penuturan kata yang
menyebabkan makna-makna abstrak menjadi konkret dan cermat.
Citraan terkait dengan panca indra
manusia, maka macam citraan juga ada lima buah. Kelima jenis indra manusia dan
kelima jenis citraan itu adalah citraan penglihatan (visual), pendengaran
(auditoris), gerak (kinestetik), rabaan (taktil termal), dan penciuman (olfaktori). Namun, pemanfaatan kelima
jenis citraan tersebut dalam sebuah karya tidak sama intensitasnya. Selain itu,
citraan mana yang banyak dipakai dan untuk menggambarkan lukisan tentang apa,
dalam banyak hal tergantung kreativitas dan kesukaan pengarang. Suatu hal yang
pasti, citraan memberikan sarana untuk menuturkan sesuatu secara konkret
(Nurgiyantoro, 2014:277).
Citraan
Gerak
Citraan gerak (kinestetik) adalah
citraan yang terkait dengan pengonkretan objek gerak yang dapat dilihat oleh
mata. Hal itu mirip dengan citraan visual yang juga terkait dengan penglihatan.
Namun, dalam citraan gerak objek yang dibangkitka untuk diihat adalah suatu
aktivitas, gerak motoric, bukan objek diam. Lewat penggunaan kata-kata yang
menyaran pada suatu aktivitas, lewat kekuatan imajinasinya, pembaca
(seolah-olah) juga dapat melihat aktivitas yang dilukiskan. Penghadiran
berbagai aktivitas baik yang dilakukan oleh manusia manapun oleh mahluk atau
hal-hal lain lewat penataan kata-kata tertentu secara tepat dapat mengonkretkan
dan menghidupkan penuturan sehingga terlihat teliti dan meyakinkan
(Nurgiyantoro, 2014:282).
C. Analisis
Sinopsis
Durga Umayi
Pada awal ceritanya, diceritakan tentang
tokoh Sulinda Pertiwi yang dilahirkan di Magelang dari seorang ayah yang
serdadu Belanda, Obrus dan ibunya yang bernama Legimah, penjual gethuk cothot.
Ia dilahirkan kembar dampit, kembarannya laki-laki bernama Brojol. Iin Sulinda
Pertiwi berwajah amat cantik, tetapi kembaran dampitnya Brojol, berwajah
pas-pasan. Karena wajahnya yang pas-pasan tersebut, maka oleh ayahnya Brojol
dianggap sebagai keturunan Dewa Basuki (dewa ular di bawah tanah yang hitam),
sedang Iin keturunan Dewa Wisnu yang bersemayam di Kahyangan. Sewaktu masih
kecil, Iin Sulinda Pertiwi tidak diberi kekebasan seperti abangnya, tetapi harus
membantu ibunya di rumah. Kesempatan di rumah tersebut dimanfaatkannya untuk
berbicara dengan noni-noni sehingga dirinya fasih berbahasa Belanda. Karena
tertarik dan terpesona oleh kehebatan Soekarno, Iin yang masih remaja itu pergi
ke Jakarta ikut bibinya sebagai pembantu rumah tangga, yang ternyata di Jakarta
bibinya menjadi pembantu keluarga Soekarno. Di rumah di Jalan Pegangsaan Timur
56 tersebut Iin mendengar dan menyaksikan berbagai peristiwa politik dan yang
paling mengharukan adalah peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945. Ia memakai pita
kain sisa guntingan bendera merah putih yang dijahit oleh Bu Fatmawati yang
dikibarkan sewaktu proklamasi kemerdekaan. 18 Sewaktu ia menyaksikan proklamasi
kemerdekaan itu, corong mikrofon mendekatinya dan mengajak berbicara. Semasa
revolosi kemerdekaan Iin Sulinda Pertiwi membantu di dapur umum di Yogyakarta,
kemudian bergabung dengan ayahnya berjuang di garis depan. Dalam pertempuran,
ia sempat memenggal kepala seorang tentara Gurka yang sudah sekarat. Setelah peristiwa
itu, ia merasa bersalah dan seolah-olah telah menjadi Durga. Karena selalu
dikejar perasaan bersalah telah memenggal kepala tentara Gurka tersebut, ia
pergi meninggalkan kesatuan. Dalam perjalanannya, ia ditangkap oleh NEFIS,
disiksa, diperkosa, dan dipenjarakan. Karena merasa dirinya sudah rusak,
sekeluarnya dari penjara, ia menjadi pelacur. Karena kemampuannya berbahasa
Belanda, dan dengan cepat pula belajar bahasa Inggris dan Perancis, akhirnya ia
segera melejit menjadi pelacur kelas tinggi yang banyak dimanfaatkan untuk
keperluan lobi internasional.
Selanjutnya, pada tahun 1960-an Iin
Sulinda Pertiwi menjadi anggota Gerwani yang ditugaskan di Yogyakarta. Di
Yogyakarta, ia berkenalan dan jatuh cinta pada seorang pelukis muda dari Bali,
Rohadi, yang wajahnya mirip dengan tentara Gurka yang dipenggalnya dahulu.
Ketika pecah pemberontakan G-30-S/PKI, ia sedang ditugaskan ke Beijing untuk
mengatur bantuan persenjataan. Setelah diketahui bahwa revolusi di Indonesia
mulai berantakan, ia 19 ditinggalkan begitu saja oleh teman-temannya. Ia segera
ke Hongkong minta bantuan temannya semasa revolusi dahulu untuk dibuatkan tiga
buah paspor palsu dengan imbalan seks dan uang. Kemudian ia ke Singapura untuk
operasi plastik. Kini ia menjelma menjadi tokoh baru dengan sejumlah nama
antara lain Nyonya Angelin Ruth Portier, sebagai pemilik dan direktur banyak
perusahaan, khususnya yang bergerak di bidang kepariwisataan, sekaligus
meneruskan profesinya sebagai pelacur dan pelobi tingkat internasional.
Setelah operasi plastik tersebut, ia
bebas lagi ke Indonesia termasuk mengunjungi Rohadi. Tetapi Rohadi telah
ditangkap karena dituduh terlibat G-30-S/PKI akibat pergaulannya dengan tokoh
Gerwani, dan dia dibuang ke Pulau Buru. Beberapa tahun kemudian, ia mencarinya
ke Pulau Buru, namun baru saja diketahui bahwa Rohadi mati karena melarikan
diri. Iin semakin merasa bersalah karena ialah penyebab malapetaka yang menimpa
Rohadi tersebut. Ia merasa seperti Betari Durga. Dari Abu Dhabi ia kemabli
mendengar rintihan yang menyebut namanya, maka ia segera ke Jawa dan meninjau
proyek kepariwisataannya. Ia semakin merasa bersalah lagi setelah tahu bahwa
proyeknya itu menerjang desa Brojol, dan kini telah hancur dibuldoser. Seharian
ia menangis di gubuk Brojol kembar dampitnya dan menyesal. Brojol sendiri
bingung tidak mengenalinya, 20 dan semakin bingung lagi ketika Iin pergi dan
memberi banyak uang kepada mertuanya.
Iin Sulinda Pertiwi yang sebagai
penyandang dana 90% dana proyek tersebut memutuskan untuk menggagalkannya
karena ia tidak mau menyengsarakan warga desa dan Kang Brojolnya. Ia segera ke
Singapura untuk operasi plastik mengembalikan diri seperti bentuk semula agar
Brojol dapat mengenalinya. Di Bangkok ia kembali mengundang kawan lamanya untuk
membuatkan paspor Indonesia. Tetapi, ia lengah walaupun telah diingatkan oleh
sekretarisnya. Di pesawat yang membawanya ke Indonesia, ia ditemani seorang
pemuda ramah, namun yang sebenarnya yang ditugasi untuk menangkapnya. Begitu
turun dari pesawat, Iin langsung ditangkap sebagai anggota Gerwani. Iin
terkejut karena itu berarti ia tidak dapat bertemu dengan Kang Brojol abangnya
yang sangat dirindukannya. Namun, juga terselip perasaan gembira karena proyek
kepariwisataannya pasti gagal. Pihak keamanan yang memeriksa Iin menjadi
kerepotan setelah membaca dokumen-dokumen yang dibawanya. Iin dilepaskan tetapi
dengan permintaan tetap meneruskan proyeknya, disamping juga diminta untuk
menghubungi tokoh-tokoh penyandang dana yang lain yang sebenarnya Iin juga
sebagai tokoh samaran. Namun, Iin telah bertekat untuk membeli lahan proyek itu
untuk dikembalikan seperti 21 semula sebagai suatu bentuk tebusan kesalahannya.
Namun, apakah pemerintah menyetujui karena harus menaggung malu? Inilah dilema
Iin sebagaimana tarik menarik antara sifat Durga dan Umayi yang menyatu dalam
dirinya.
Hasil analisis
Bagian
1
“Mengejar
layang-layang putus di jalan raya atau dihalaman tetangga, dibiarkan mencuri
manga dikebun belakang pak haji hammam, apalagi tidak punya wajib ikut mencuci
piring, menyapu lantai, atau menjahit celana sobek seperti Lin” (Hal-6)
Bukankah
kata-kata pada kalimat mengejar, mencuri, mencuci, menyapu dan menjahit
itu melukiskan suatu aktivitas dan karenanya kata-kata itu adalah suatu
perwujudan citraan gerak.
“Toh
selalu mendapat bekal hadiah uang tidak sedikit dari adiknya yang dulu ketika
masih kecil sering dia tendang karena tidak mau memasang kancing bajunya yang
copot” (Hal-18)
Kata
tendang pada kalimat merupakan
suatu perwujudan citraan gerak, karena tendang merupakan suatu bentuk gerak
motoric.
“Minta disepak
dengan sepatu sepak bola” (Hal-23)
Kata
sepak pada kalimat merupakan suatu bentuk gerak motoric yang digunakan untuk
menggambarkan perilaku gerakan yang dilakukan oleh tubuh manusia, maka kalimat
merupakan suatu perwujudan citraan gerak.
“Gentayangan
lari-lari di belakang laying-layang putus dan pulang dengan baju celana serba
kotor” (Hal-25)
Kata
lari-lari pada kalimat merupakan suatu bentuk gerak motoric yang dilakukan oleh
tubuh dan termasuk suatu perwujudan citraan gerak.
“Lin
harus manis taat dirumah mencuci piring dan membanu ibu memasak dan sebagainya”
(Hal-25)
Kata-kata
mencuci, membantu, dan memasak merupakan suatu bentuk aktivitas dan
karenanya kalimat tersebut adalah suatu perwujudan citraan gerak.
Bagian
2
“Bibi
sudah sejak zaman Gouverneur-Generals mencari rezeki sebagai tukang cuci dan
seterika keluarga Belanda” (Hal-29)
Kalimat
di atas merupakan perwujudan citraan gerak
“Mencuci
dan menyetrika busana kalangan tinggi secara necis dan persis menurut cara
Holland untuk tuan dan puannya yang baru
itu, dan yang ternyata sangat ramah kepada pembantu. (Hal 29)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak, karena didukung pada kata mencuci dan menyetrika.
“Tiwi
ikut membantu bibinya untuk membersihkan segala yang kotor dari benda-benda
paling intim milik tuan insinyur” (Hal-30)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak karena kata membersihkan suatu bentuk kata
kerja.
“Menjahit
tepi-tepi calon pita-pita yang esoknya akan ia hiaskan pada rambutnya yang
indah yang lebat yang menjadi kebanggaan setiap perempuan” (Hal-40)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak didukung pada kata menjahit, itu melukiskan suatu
aktivitas.
“Ketika
Tiwi menyampaikan segenggam bunga melati pada hari ulang tahun” (Hal-40)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak, yang didukung pada kata menyampaikan yang
melukiskan suatu aktivitas.
“Lalu
berjalan, turun tangga pendapa, dan manuju pelan kea rah Tiwi yang ketika itu
berdiri bersama dengan beberapa pembantu rumah tangga di bawah pohon di halaman
muka samping” (Hal-41)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak yang didukung dengan kata berjalan yang
merupakan suatu aktivitas.
“Tiwi
tanpa melepaskan blus dan roknya yang putih rapi tersetrika menuju ke belakang
dan mulai menjemur pakaian-pakaian basah yang menunggu giliran menghirup udara
segar 17 Agustus 1945” (Hal-42)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak, dikalimat tersebut didukung dengan kata-kata
mulai menjemur pakaian-pakaian basah yang merupakan sebuah aktivitas.
“Hei,
kamu dicari hyangmu si pemuda senapan kayu, ‘bisik bibirnya, tetapi Tiwi
menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata ‘saya bukan hyangnya’” (Hal-42)
Kalimat
diatas merupakan percakapan yang didalamnya ada unsur citraan gerak, yang
didukung ketika tiwi menggelang-gelengkan kepalanya yang merupakan sebuah gerak
motoric.
Bagian
3
“Memang
ketika itu Tiwi sedang disuruh membeli sabun dan belawu dari toko oleh bibinya,
tetapi tak sengaja ia hanyut dalam lautan puluhan ribu manusia yang berbondong-bondong
berdorong-dorong keluar kampung membawa bendera Merah putih bermacam-macam
ukuran” (Hal-45)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak karena didukung dengan kata berbondong
bondong berdorong-dorong keluar kampung membawa bendera Merah putih yang
merupakan suatu aktivitas.
“Dan
sudah berhari-hari membereskan pengaturan perabot dan pakaian keluarga Presiden
serta memeriksa kembali kamar mandi WC dan segala tetek bengek yang tidak
pernah dihiraukan” (Hal-47)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak yang didukung oleh kata membereskan.
“Setiap
malam para anggota laskar yang berbondong-bondong semakin bertambah” (Hal-49)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak karena didukung oleh kata berbondong-bondong,
dimana pembaca disuruh membayangkan bagaimana anggota laskar itu berbondong-bondong
berjalan.
“Melemparkan
granat dan sedikit banyak berpencak silat” (Hal-57)
Kata
melemparkan melukiskan sebuah aktivitas dank arena itulah termasuk citraan
gerak.
“Memukul
menuju seluruh tubuh anaknya, diangkat dilempar ke udara dibanting di kasur
seperti tokoh wayang” (Hal 57-58)
Kata-kata
semacam memukul, diangkat, dilempar dan dibanting merupakan suatu aktivitas dan
karenanya termasuk citraan gerak.
“Menuntut
kancing bajunya yang lepas dijahit kembali lagi dan mencuci pakaian” (Hal-62)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak karena didukung dengan kata kerja dijahit.
“Menggendongnya
menimang-nimangnya menciumnya dan bukan memenggal lehernya” (Hal-65)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak yang didukung oleh kata menggendongnya,
menimangnya, menciumnya yang merupakan sebuah aktivitas maka itu karenanya kata
itu adalah suatu bentuk perwujudan citraan gerak.
Bagian
4
“Pegangsaan
timur dan kotak maiknya memukul-mukul tangan dan bahu pertiwi” (Hal-83)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak karena didukung oleh kata memukul yang merupakan
bentuk gerak motoric.
“Tante
Tiwi alias Madame Nussy hidup dari hotel yang satu ke motel yang lain dari
apartemen di Paris pindah ke suite di Wina pindah lagi ke ranch di Meksiko ke
bungalow puncak atau pulau seribu” (Hal-85)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak yang menggambarkan tentang perpindahan tante wi,
disini pengarang mencoba membuat pembaca agar dapat membayangkan bagaimana
pergerakan pindah dari satu hotel ke motel yang lain.
Bagian
5
“Setelah
lelah berputar-putar sendirian dikampung” (Hal-109)
Kata
berputar merupakan citraan gerak dan merupakan aktivitas.
Bagian
6
“Mungkin
dia ingin lari ke Pantai selatan Bu” (Hal-141)
Kata
lari pada kalimat di atas merupakan sebuah aktivitas maka dikarenakan kata itu
adalah termasuk dalam suatu perwujudan citraan gerak.
Hidup
serdadu tangsi di zaman kereta api lokomotif uap-air Magelang masih ngos-ngosan
teng-teng-teng kuuk enak nekad saja berjalan lewat Jalan pencinaan yang penuh
rakyat” (Hal-144)
Kata
berjalan pada kalimat diatas merupakan sebuah bentuk aktivitas, dimana
pengarang membawa agar pembaca dapat membayangkannya. Dan merupakan citraan
gerak.
“Madame
Nussy mondar-mandir dengan tangan di saku slack-nya dengan tangan
bersilang di dada dengan tangan mengecak pinggang penuh pernyataan mengiang dan teka-teki” (Hal-147-148)
Kata
mondar-mandir merupakan citraan gerak.
“Hei
hayo pergi” (Hal-153)
Kata
diatas merupakan citraan gerak, karena
kata ajakan tersebut yang melukiskan
suatu perwujudan citraan gerak.
“Maka
berlarilah anal-anak terbirit-birit menjauhi mobil dan Madame Nussy dan
sopirnya”( Hal-153)
Kata
berlari merupakan citraan gerak. Karena sebuah aktivitas gerak.
Bagian
7
“Sepanjang
siang dan petang berpuluh-puluh anak-anak mengintip lewat pintu jendela lewat
sela-sela papan kayu kamar tidur untuk melihat berbuat apa saja sang Nyonya
putih lobak hidung wortel mancung tadi di dalam kamar di atas ranjang; dan tentu saja mereka diusir disapu ditampar oleh ibu-ibu”
(Hal-161)
Kata-kata
semacam mengintip, diusir, disapu dan ditampar melukiskan suatu aktivitas yang
merupakan suatu perwujudan citraan gerak.
“Ibu
mertua kang Brojol hanya geleng-geleng kepala saja” (Hal-162)
Kata
geleng-geleng merupakan suatu bentuk gerak motoric dan termasuk citra gerak.
“Bang
Brojol setuju dan istrinya dan mengangguk akur” (Hal-163)
Kata
mengangguk itu merupakan suatu gerak motoric dan merupakan citraan gerak.
“Sang
professor spesialis, dengan berdehem-dehem dan mengangguk-ngangguk tanda penuh
pengertian pada kemauan wanita.” (Hal-167)
Kalimat
diatas merupakan citraan gerak.
Bagian
8
“Yang
memanjat tangga dan masuk lewat jendela membawa
segengam mawar merah dan melati putih” (Hal-174)
Kata
memanjat, membawa merukan suatu aktivitas yang menggambarkan citraan gerak.
“Gentlemen
itu menolong lagi dengan mengambilkan tas cangklong dari kotak di atas kursi”
(Hal-175)
Kata
mengambilkan adalah suatu bentuk aktivitas yang merupakan citraan gerak.
D. Penutup
Simpulan.
Berdasarkan analisis stilistika
(citraan) terhadap novel Durga Umayi karya YB.Mangunwijaya dapat disimpulkan
sebagaimana berikut, Citraan yang dapat ditemukan dalam analasis diatas antara
lain adalah citraan visual, citraan gerak, citraan pendengaran, citraan
perabaan dan penciuman. Namun lebih di dominasi dengan citraan gerak.Citraan
gerak merupakan citraan yang paling banyak digunakan oleh YB.Mangunwijaya.
Banyaknya citraan gerak yang digunakan
adanya maksud mengajak pembaca untuk membayangkan suatu hal.Citraan
gerak digunakan untuk mengilustrasikan suasana yang ada dalam cerita,
menimbulkan imajinasi pembaca terhadap apa yang sedang terjadi, menggambarkan
aktifitas maupun ekspresi para tokoh dalam cerita.
Daftar Pustaka
Aminuddin. 1995. Stilistika. Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra.
Semarang : IKIP Semarang Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 2014. STILISTIKA. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Supriyanto, Teguh. 2009. Penelitian Stilistika dalam Prosa.
Jakarta: Depdiknas. Pusat Bahasa.
Mangunwijaya,Y.B.1991. Durga Umayi.
Jakarta : Grafiti.

Komentar
Posting Komentar