Analisis puisi O karya Sutardji Colzoum Bachri
ANALISIS STRATA NORMA PADA PUISI O KARYA
SUTARDJI CALZOUM BACHRI

OLEH
:
ANNISA
AKHLAK
1414015018
STILISTIKA
2014
FAKULTAS
ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS
MULAWARMAN
SAMARINDA
2016
O
dukaku dukakau dukarisau dukakalian
dukangiau
resahku resahkau resahrisau resahbalau
resahkalian
raguku ragukau raguguru ragutahu
ragukalian
mauku maukau mautahu masusampai
maukalian maukenal maugapai
siasiaku siasiakau siasiasia siabalau
siarisau siakalian siasiasia
waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswas
duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu
duhaikalian duhaisangsai
oku okau okosong orindu okalian obolong
orisau oKau O….
(Sutardji
Calzoum Bachri)-
A.
ANALISIS STRATA NORMA PADA PUISI O KARYA SUTARDJI
CALZOUM BACHRI
A. Pendahuluan
Sutardji Calzoum Bachri dengan sapaan akrab Bung
Tardji, lahir di Rengat, Indragiri Hulu, pada tanggal 24 Juni 1941. Sutardji C.
Bachri merupakan putra dari pasangan Mohammad Bachri yang berasal dari Prembun,
Kutoarjo, Jawa Tengah dan May Calzum yang berasal dari Tanbelan, Riau. Beliau
terlahir sebagai anak kelima dari sebelas bersaudara. Sutardji Calzoum Bachri
adalah pujangga Indonesia terkemuka. Ia di beri gelar sebagai “Presiden Penyair
Indonesia”. Bung Tardji memiliki seorang istri yang bernama Mariham Linda pada
tahun 1982 dan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Mila Seraiwangi.
Bung Tardji dikenal sebagai sastrawan pelopor puisi
kontemporer. Seorang sutardji adalah penyair yang berani mendobrak kebiasaan
menulis pada eranya yang termasuk sudah mapan dengan berpijak pada pemilihan
kata-kata yang tentu diisi oleh makna-makna itu bersifat literal atau
figuratif. Melalui kredo puisinya Sutardji bependapat bahwa kata dalam puisi
harus bebas dari beban-beban makna.
Melalui kredo puisinya, Sutardji mencoba untuk
mengukuhkan apa yang menjadi pedoman dan keyakinannya dalam membuat puisi
melalui puisi O, Amuk, Kapak dan menjadi bukti bahwa sutardji menentang
sesuatu yang telah mapan sebelumnya. Dia ingin melawan arus kebiasaan-kebiasaan
berpuisi yang telah lama dipertahankan banyak penyair, bahwa puisi harus
memiliki makna, walaupun makna itu diserahkan lagi kepada pembaca dan
interpretasinya pun beda-beda. Maka hal itulah yang dilawan bung tarji, bhwa
kata bukanlah alat pengantar makna.
Setidaknya begitulah yang diharapkan oleh seorang
Sutardji Calzoum Bachri, bahwa puisi harus kembali kepada mantera. Bung tardji
berusaha untuk menggali konsep mantra yang jelas dihubungkan dengan tujuanya
untuk mencari Tuhan
B. Tentang
puisi
Puisi diartikan sebagai pembangun, pembentuk atau
pembuat karena memang pada dasarnya dengan mencipta sebuah puisi maka seorang
penyair telah membangun, membuat atau membentuk sebuah dunia baru, secara lahir
batin, Tjahjono (melalui Rokhmansyah, 2014:13). Jassin (melalui Rokhmansyah,
2014:13) mengatakan puisi adalah pengucapan dengan perasaan. Seperti diketahui
selain penekanan unsur perasaan, puisi juga merupakan penghayatan kehidupan
manusia dan lingkungan sekitarnya dimana puisi itu diciptakan tidak terlepas
dari proses berfikir penyair.
Sebuah puisi adalah sebuah struktur yang terdiri
dari unsur-unsur pembangun. Unsur unsur pembangun tersebut dinyatakan bersifat
padu karena tidak dapat berdiri sendiri tanpa mengaitkan unsur yang satu dengan
unsur yang lainya. Unsur-unsur dalam sebuah puisi bersifat fungsional terhadap
unsur lainya. Waluyu (melaui Rokhmansyah, 2014:13).
Puisi disusun dari kata dengan bahasa yang indah dan
bermakna yang dituliskan dalam bentuk bait-bait. (Rokhmansyah, 2014:14).
C.
Teori Strata Norma Roman Ingarden
Penilaian terhadap karya sastra akan terlaksana
dengan baik, apabila diperhatikan susunan norma-norma karya sastra. Filsuf
Polandia, Roman Ingarden, membuat analisis karya sastra yang sangat orisinil
dan teknis. Ia memakai metode fenomenologi dari Husserl untuk membedakan strata
norma dalam karya sastra. Roman Ingarden (melalui Rokhmansyah, 2014:109)
menyebutkan strata norma dalam karya sastra antara lain : lapis bunyi, lapis
arti, lapis objek, lapis dunia yang dilihat dari suatu titik pandang tertentu,
dan lapis metafisika.
Wellek (melalui Rokhmansyah :109- 110) mengemukakan
analisis strata norma menurut roman ingarden sebagai berikut :
1. Lapis
norma pertama adalah lapis bunyi yang (sound stratum). Suara sebagai konvensi
bahasa, disusun sedemikian rupa hingga menimbulkan arti. Sehingga suara itu
tidak hanya sekedar suara tidak berarti. Dengan adanya suara-suara itu, akan
bias ditangkap artinya atau maksud dari puisi tersebut.
2. Lapis
arti (unit of meaning), yaitu berupa rangkaian fonem, suku kata, kata
frase, dan kalimat. Semuanya merupakan satuan-satuan arti.
3. Lapis
yang berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang
yang berupa cerita atau lukisan.
4. Lapis
“dunia”yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan,
tetapi terkandung didalamnya (implied)
5. Lapis
metafisis, berupa sifat-sifat metafisis yang sublim, tragis, mengerikan atau
menakutkan, dan suci. Melalui sifat-sifat seni ini dapat memberikan renungan
atau kontemplasi kepada pembaca.
Strata norma dari Roman Ingarden ini
diterapkan pada saat melakukan analisis dan interpretasi pada puisi yang
diteliti. Karena biasanya analisis dan interpretasi puisi dilakukan secara
bersamaan.
C.
Analisis Strata Norma
1. Lapis
pertama
Pembahasan lapis bunyi hanya ditujukan pada
bunyi-bunyi yang bersifat “istimewa” atau khusus, yaitu bunyi-bunyi yang
dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni (Pradopo, 1990: 16).
Dalam puisi bunyi bersifat estetik, merupakan unsur puisi untuk mendapatkan
keindahan tenaga ekspresif. Kecuali itu bunyi bertugas memperdalam makna,
menimbulkan suasana yang khusus, menimbulkan perasaan tertentu, dan menimbulkan
bayangan angan secara jelas. Demikian pentingnya peranan bunyi dalam puisi,
sehingga dalam perjalanannya ada puisi-puisi yang sangat menonjolkan unsur
bunyi. Analisis lapis bunyi ini meliputi aliterasi, asonansi, persajakan, dan
rima.
Pada
puisi O ini penyair banyak menggunakan permainan bunyi. Pemilihan bunyi-bunyi
ini akan meninggalkan efek khusus yang diperoleh dari puisi. Pemanfaatan bunyi
yang dilakukan oleh penyair meliputi persajakan atau rima.
Rima adalah pengulangan bunyi yang sama dalam puisi
yang berguna untuk menambah keindahan suatu puisi. Dalam persajakan rima dapat
dibedakan menurut: bunyi-bunyi dalam baris atau bait. Misalnya dalam puisi O
Efek bunyi ditimbulkan oleh aliterasi. Aliterasi
adalah pengulangan bunyi konsonan yang sama dalam baris-baris puisi, biasanya
pada awal kata atau perkataan yang berurutan. Pengulangan seperti itu
menimbulkan kesan keindahan bunyi. Pada puisi O itu juga menimbulkan efek bunyi
Asonansi. Asonansi adalah pengulangan bunyi vokal yang sama pada kata atau
perkataan yang berurutan dalam baris-baris puisi. Pengulangan begini
menimbulkan kehalusan, kelembutan, kemerduan, atau keindahan bunyi. Asonansi
ini ditemukan pada setiap baris puisi O yaitu pengulangan vokal /u, a, i, o/.
Puisi
ini terdiri dari satu bait yang terdiri dari delapan baris. Puisi ini
didominasi oleh bunyi /u/, /a/, /i/, dan /o/
secara bersamaan yang termasuk dalam golongan eofoni. Bunyi yang didominasi vokal
/u/,/a/,/i/ dan /o/ secara symbol menimbulkan suasana perasaan gelisah, ragu,
sedang berduka, was-was.
O
dukaku dukakau dukarisau dukakalian
dukangiau
Bunyi konsonan d dan k dalam kata-kata baris pertama kada
puisi O menggunakan rima aliterasi, dan bunyi vokal u dan a dalam puisi O
menggunakan rima asonansi.
resahku resahkau raguguru ragutahu ragukalian
bunyi konsonan r, s, g, dan k dalam kata-kata baris
kedua pada puisi O menggunakan
rima aliterasi.
raguku ragukau raguguru ragutahu
ragukalian
Dalam kata-kata baris ketiga pada
puisi O bunyi vokal a, dan u dalam puisi menggunakan rima asonansi.
mauku maukau mautahu mausampai maukalian
maukenal maugapai
Dalam kata-kata baris keempat pada
puisi O bunyi vokal a, dan u, pada puisi menggunakan konsonan rima asonansi.
siasiaku siasiakau siasiasia siabalau siarisau
siakalian siasiasia
Dalam kata-kata baris kelima pada
puisi O menggunakan bunyi vokal i dan a pada puisi menggunakan rima
asonansi.
waswasku waswaskau waswaskalian
waswaswaswaswaswaswaswas
bunyi w dalam kata-kata
baris keenam pada puisi O menggunakan rima aliterasi,
duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian
duhaisangsai
Dalam kata-kaya baris ketujuh pada
puisi O menggunakan bunyi vokal pada u, a, dan i, dalam puisi
menggunakan rima asonansi.
oku okau okosong orindu okalian obolong orisau oKau
O….
Dalam kata-kata baris kedelapan
pada puisi O menggunakan bunyi vokal o dan i, menggunakan rima asonansi.
Pemanfaatan bunyi atau efek ini
akan mendukung suasana yang ingin ditimbulkan oleh penyair pada puisinya.
Dengan penggunaan dominan asonansi vokal /a/, /u/ dan /i/, dan aliterasi
konsonan /k/ dan /s/.
2.
Lapisan kedua
Lapis arti ini akan menganalisis
satuan-satuan makna dari susunan pilihan kata yang dilakukan oleh penyair.
Lapis kedua ini dilakukan dengan mengarti kata, frasa, atau kalimat secara harfiah
atau secara umum dengan makna kata sebenarnya.
Baris
pertama pada puisi O, dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau
dapat diartikan sebagai kondisi atau situasi yang sedang berduka. baris kedua
dan ketiga resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian dan raguku
ragukau raguguru ragutahu ragukalian dapat diartikan sebagai kondisi
tentang keresahan atau was-was. mauku maukau mautahu mausampai maukalian
maukenal maugapai pada baris keempat dapat diartikan sebagai bahwa penyair
sedang gelisah tentang mencari sosok Tuhan. Pada baris kelima dan keenam siasiaku
siasiakau siasiasia siabalau siarisau siakalian siasiasia dan waswasku
waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswas dapat diartikan sebagai pencariannya terasa sia-sia. Maka
sang tokoh pun merasa was-was. pada baris ketujuh duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu
duhaikalian duhaisangsai dapat diartikan sebagai bahwa penyair mengajak semua
pembaca puisi untuk sama-sama merasakan apa yang penyair rasakan melalui kata
duhai. Dan pada baris terakhir oku okau okosong orindu okalian obolong
orisau oKau O….dapat diartikan sebagai bahwa penyair paham, akan
permasalahanya namun tidak sepenuhnya ia pahami melalui huruf o, dan
penyair akhirnya berserah diri pada Tuhan melalui kata okau O..
3. Lapis
ketiga
Lapis
objek ini meliputi latar, pelaku dan dunia pengarang. Pelaku dalam puisi O ini
adalah penyair atau pengarang itu sendiri. Latar yang tersorot dalam puisi ini
adalah kehidupan penyair pada saat puisi ini dibuat. Jadi objek-objek latar dan
pelaku yang dikemukakan dalam puisi O ini digabungkan maka akan menghasilkan
dunia pengarang atau isi puisi. Ini merupakan dunia (cerita ) yang diciptakan
penyair di dalam puisinya. Imajinasi dunia pengarang adalah sebagai berikut.
Penyair
menggambarkan tentang seorang yang sedang berduka dan resah karena mencari
sosok Tuhan. Sosok terebut mau mengenal tuha yang lebih jauh karena dia merasa
ragu terhadap keyakinanya, namun dalam pencariannya terasa sia-sia. Maka sang
tokoh pun merasa was-was terhadap keyakinanya. Lalu penyair mengajak semua
pembaca atau pendengar puisi tersebut untuk sama-sama merasakan apa yang
penyair rasakan melalui kata duhai, dan pada baris terakhir menunjukan
pemahaman penyair terhadap permasalahanya, namun tidak sepenuhnya ia pahami dan
itu diungkapkanya melalui huruf O, dan akhrinya penyair berserah diri kepada
tuhan melalui kata okau O..
4. Lapis
keempat
Lapis
keempat merupakan lapis dunia yang dilihat dari suatu titik pandang tertentu.
judul puisi ini bisa di intertekskan dengan kata bolong atau kosong. Penyair
ingin menghantarkan kepada pembaca mengenai suatu kebimbangan seseorang yang
sedang berduka, maka kata dukanya diulang sampai lima kali itu menandakan bahwa
penyair mengandung duka yang sangat dalam, baik itu pembaca (dukakau) atau duka
kekasihnya, duka temanya (dukakalian)
dan duka seekor binatang / kucing (dukangiau).
Dan begitu juga kata resah, ragu, mau, sia-sia, was-was, adalah sebuah
tekanan makna bahwa duka terebut begitu dalam dan membuat keresahan tersebut
menjadi ragu, akan tetapi ingin mencari tahu dan pencarianya sia-sia dan
membuat was-was. kata-kata yang seperti
mantra ini merupakan ekspresi dari doa, dan penyair mngekspresikan perasaan
yang membuat penyair berkeinginan mencari namun sia-sia. Perasaan hampa dan
was-was itu dilambangkan dengan huruf O,
yang berarti bolong, kosong. Jadi sebenarnya huruf O adalah penggambaran
dari perasaan hampa kosong, dari seorang penyair yang hendak disampaikan kepada
pembaca.
5. Simpulan
Dari hasil analisis di atas, puisi ini merupakan
puisi yang seperti mantra seakan-akan bahwa itu adalah doa dan dosa, tentang
bagaimana manusia merasa berdosa dengan segala keresahan dan kesedihan, yang
maka semuanya harus dikembalikan lagi
pada Tuhan, puisi ini
menggambarkan yang awalnya sangat yakin, menjadi ragu dan berusaha menggapai
semuanya walaupun tak mungkin.
Amanat
pada puisi ini adalah seorang manusia harus berusha sebaik-baiknya dalam
menjalani roda kehidupan didunia, dan setelah itu menyerahkan segala sesuatunya
kepada Tuhan.
Daftar
Pustaka
Rokhmansyah, Alfian. 2014. “ Studi dan Pengkajian
Sastra : Perkenalan Awal Terhadap Ilmu Sastra”. Yogyakarta : Graha Ilmu
Pradopo,
Djoko Rachmat, 1987. “Pengkajian Puisi”. Yogyakarta Gadjah Mada University
Press
Kalau dibaca pasti kocak nih puisi
BalasHapus